Mimpi yang Belum Padam
17.08.11
Hari ini setahun yang lalu, saya berangkat ke Jogja dengan sebuah keyakinan bahwa jika kita ingin mewujudkan impian diri sendiri, kita harus mampu mendukung perwujudan mimpi orang lain. Bahwa jika kita ingin menjadi besar, kita harus mau membantu orang lain untuk tumbuh besar bersama. Setahun kemudian, semua orang telah berproses lebih matang namun belum ada satupun impian yang berhasil saya bantu wujudkan. "Apa yang salah?" adalah satu pertanyaan utama di benak saya.
Baru saja malam tadi saya saksikan "Kung Fu Panda 2" bersama dua rekan, dan disadarkan dengan masih absennya sebentuk semangat di kalangan animasi tanah air: gairah untuk berdikari secara kreatif, merdeka dari belenggu ekonomi hubungan majikan-buruh. Adalah wajar jika dalam prosesnya tumbuh, sebuah perusahaan menerima job membantu eksekusi ide pihak lain. Tetapi jika ada studio yang sejak awal dibangun diproyeksikan menjadi 'buruh', melulu menjahitkan ide orang lain, harus kita pertanyakan "apakah itu pola pikir bangsa yang mengaku merdeka?".
Hubungan buruh dengan majikan, penyedia jasa dengan klien, akan selalu ada. Kita toh perlu mencari sesuap nasi ("... dan sekarung berlian", ada yang menambahkan). Di negara maju pun studio yang menerima subkontrak dan memberi layanan outsource adalah hal yang lumrah (terutama jika industri inti yang menciptakan produk orisinal sudah matang), namun hal itu tidak harus menjadi belenggu kreativitas. Yang mencemaskan adalah jika seluruh perusahaan distrukturkan agar dapat menjadi buruh yang efisien. Agar dapat menjadi babu yang baik. Macam orang yang badan dan pikirannya dipermak demi kebutuhan majikan. Merdeka-kah orang semacam itu?
Ya, kita mungkin telah merdeka, namun mental kita masih terjajah. Kesempatan emas untuk berprestasi gemilang terbentang di depan mata, tapi kita merasa sudah cukup dengan kepeng emas. Tim kreatif yang mulai solid kita pecah demi peningkatan kapasitas produksi. Proses eksplorasi yang bagus kita sudahi prematur demi memenuhi tenggat produksi. Lingkungan kreatif kita sumpal dan isolasi demi citra bona fide. Masuk akal dari segi bisnis, tapi kapan kita akan menghasilkan karya yang dapat kita banggakan, kalau begini caranya?
Setidaknya, pengalaman memburuh yang singkat ini memberi saya wawasan tentang kondisi seperti apa yang ingin saya capai sementara ini. Pertama, berkebalikan dengan adagium bisnis "Waktu adalah Uang", bidang kreatif lebih cocok dengan adagium "Uang adalah Waktu". Kita membutuhkan pendapatan secukupnya agar tidak perlu pusing tentang uang, juga agar dapat 'membeli' cukup waktu untuk berlatih dan bereksplorasi agar karya yang dihasilkan lebih optimal. Betapa banyak proyek yang rilis setengah jadi akibat keterbatasan modal, yang juga berarti keterbatasan waktu (selain mungkin manajemen waktu yang masih payah).
Kedua, sepertinya akan lebih baik jika sebuah studio dimulai oleh seseorang yang berpengalaman berkecimpung di dunia animasi. Seseorang yang jerih payahnya pernah dihadapkan langsung dengan tenggat waktu (agar ada tenggangrasa dengan anggota tim, tahu bahwa dikejar tenggat saja menegangkan, dan tambahan tekanan manajer bisa jadi justru menyebalkan), yang telah mengalami langsung alur produksi profesional (agar tidak berlama-lama meraba alur yang tepat), yang telah merasakan satu tim dengan rekan2 beragam kemampuan dan keterampilan (agar tahu skill apa saja yang diperlukan dan yang harus diperbaiki).
Cukup sekian keluh kesah saya. Seperti biasa, tidak ada siapapun yang dapat saya harapkan selain diri sendiri untuk mewujudkan cita-cita, dan sementara saya harus kembali melangkah sendiri. 17 Agustus 2011, teriring doa untuk rekan2 terdekat agar jiwa raga kita tetap merdeka, dan semakin merdeka.